Kalau kau memang mengasihi seseorang, maka kamu harus
menerima dia apa adanya dan ngedukung dia biarpun kamu tau hidupnya masih nggak
bener,” gitu kata orang-orang yang menjunjung tinggi nilai toleransi sampai ke
titik yang paling ekstrem. Termasuk menolerir dan ngedukung mereka yang ngerasa
nyaman hidup dalam dosa seksual plus penyimpangannya. Karena itulah sekarang
ada gereja terutama di negara-negara barat yang nggak lagi mengkhotbahkan
tentang dosa. Katanya atas nama kasih kita harus lebih toleran, menghormati
pilihan orang lain dan nggak boleh menghakimi sama sekali. Hmm, apa iya itu
yang dimaksud FirTu dengan mengasihi?
Sekarang coba liat dari ilustrasi ini. Salah seorang teman
ada di kamarnya di lantai 2, padahal lantai 1 rumahnya udah kebakaran. Saat itu
dia lagi tidur pulas karena kecapean, jadi dia sama sekali nggak sadar bahwa
hidupnya sedang dalam bahaya. Dalam situasi seperti itu, apa yang bakalan kamu
lakuin? Ngebiarin aja karena nggak mau ngeganggu tidurnya (kasihan), atau
teriak-teriak dan kalo perlu ngelemparin kaca
jendela kamarnya sampai pecah, sehingga dia tau kalo dia dalam bahaya
dan harus segera keluar dari situ? Gak mungkin kan kamu milih yang pertama! Keselamatan
jiwanya jauh lebih penting dari kenyamanannya. *Dhina KS